Prevent Dispensing Error

Reference

Flynn E, Barker KN, Carnahan BJ. National observational study of prescription dispensing accuracy and safety in 50 pharmacies. J Am Pharm Assoc. 2003;43:191–200.

UkensC. Deadly dispensing: an exclusive survey of Rx errors by pharmacists.  Drug Topics. March 13, 1997:100–11.

National Prescribing Centre

–Website:   http://www.npc.co.uk/

Institute for Safe Medication Practices (ISMP) (American)

–Website:  http://www.ismp.org/

Aronson & Richards. Oxford Handbook of Practical Drug Therapy. ISBN 0198530072

 

Fact of Dispensing Errors

  • 98.3% accuracy in dispensing medications
  • Therefore, 1.7% inaccuracy rate
  • Over 3 billion medications dispensed per year
  • 4 errors per day per 250 prescriptions filled
  • Over 51 million dispensing errors per years

Category of Errors

  • Misreading the prescription
  • Incorrect picking of the medicines
  • Labelling the medicine wrongly
  • Giving the wrong prescription to the wrong patient
  • Extract of the wrong strength
  • Incorrect compounding
  • Supplying contaminated / out-of-date stock

Most Prevalent Dispensing Error

The top three dispensing errors include (1) dispensing an incorrect medication, dosage strength, or dosage form, (2) dosage miscalculations, and (3) failure to identify drug interactions or contraindications.

Common Causes Dispensing Errors

1. Workload

Solve –>

  • Ensure staffing levels
  • Limiting workload with :
  1. Dispense ≤ 150 prescription per pharmacist per day
  2. Require rest breaks every 2-3 hours
  3. Warm up before restarting work task
  4. Require 30 minute meal break

2. Distraction

Solve –>

  • Traine support personnel to answer telephone

3. Work Area

Solve –>

  • Label on Bins and Shelves à Using barcodes to reduce errors
  • Separate by route of administration
  • Use auxiliary label
  • Use unconventional type font to enhance reading of drug name
  • Separate sound-alike/look-alike drug

Avoiding Dispensing Errors

  • Patient knowledge
  • Have a therapeutic goal
  • Knowledge about the drug
  • Monitor effect and adverse effect
  • Good communication

Minimize Dispensing Errors

  • Use mnemonic “HELP” when making final check

H  = “How Much” has been dispensed

E  = “Expiry Date” check

L  = “Label” for correct patient’s name

P  = “Product

Maximize Dispensing Accuracy

  1. Lock up drugs that could cause disastrous errors
  2. Develop and implement procedures for drug storage
  3. Reduce distractions, design a safe dispensing environment, and maintain optimum workflow
  4. Use reminders such as labels and computer notes to prevent mix-ups between look-alike and sound-alike drug names
  5. Keep the original prescription order, label, and medication container together throughout the dispensing process
  6. Compare the contents of the medication container with the information on the prescription
  7. Enter the drug’s identification code into the computer and on the prescription label
  8. Perform a final check on the prescription, the prescription label, and manufacturer’s container; when possible, use automation (e.g., bar coding)
  9. Perform a final check on the contents of prescription containers
  10. Provide patient counseling

Evaluasi Perkuliahan

Salah satu masalah terbesar dari perkuliahan – menurut saya tentunya – bukan pada awal perkuliahan, tetapi ada pada akhir perkuliahan. Biasanya pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji atau diukur pemahamannya dengan ujian. Setelah ujian diperiksa, nilai diberikan. begitu seterusnya. Setelah itu? Ya sudah selasai. Ada mahasiswa yang lulus dan ada mahasiswa yang harus mengulang. 

Permasalahannya apakah ada evaluasi atas semuanya? Apakah materi sudah cukup baik atau relevan? Bagaimana cara menyampaikan materi tersebut? Dan seterusnya. Mahasiswa sudah tidak tertarik untuk mendiskusikan hasilnya karena sudah akan menghadapi kuliah baru. Demikian pula dosennya juga tidak tertarik untuk melakukan pembahasan karena toh kuliah sudah selesai. Repot-repot amat harus kerja tambahan.

Nah … tahun depan akan kembali terulang hal yang sama. Lalu kapan perbaikannya?

Atama Ranata Lubis

Ga terasa udah lama banget ga update blog ini. Alasannya? … Saya lagi enjoy menikmati kehidupan baru menjadi seorang bunda. Senang banget rasanya ketika bangun pagi ada wajah lucu yang lagi tidur lelap meskipun terkadang emang ga bisa dibohongi kalo jadi bunda itu GA MUDAH..

Assalamualaikum putra ku.. ATAMA RANATA LUBIS

i love you son

Menulis Itu Tidak Mudah

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pelatihan pembuatan buku ajar. Masing-masing peserta diminta untuk menulis buku ajar dan diberi deadline waktu hingga 10 Oktober 2012.

Seharusnya saya bisa menyelesaikan satu bab setiap minggunya, tetapi kenyataannya banyaknya dokumen yang harus dipersiapkan untuk akreditasi dan kegiatan lainnya menyebabkan 1 bab saja sangat sulit untuk diselesaikan

Hmm, membuat 1 bab dari buku saja susah, apalagi harus membuat buku ya? harus berusaha lebih keras n lebih kreatif lagi niy..

1 bab selesai, masih ada 5 bab lagi..😦

Alhamdulillah

Alhamdulillah..

I couldn’t think while I saw these two stripes. And it’s not the first one. A day before I took test but couldn’t believe my eyes!

Asli blank banget.. Cuma sujud syukur n nangis yang bisa dilakukan..😀

Tapi sekarang udah cek ke dokter dan Alhamdulillah sekarang usianya udah masuk 7w5d..😉

Baik2 ya ka didalam perut mami..

Mom n Dad love u much..

Osteoartritis (Nyeri Sendi)

OSTEOARTRITIS (Nyeri Sendi)

penyebab DAN PENATALAKSANAAN TERAPI

By: Nani Kartinah, S.Farm, M.Sc, Apt

 

 

          Osteoartritis merupakan gangguan persedian yang ditandai dengan adanya nyeri dan kekakuan sendi yang biasanya banyak terjadi pada usia lanjut. Berdasar data Center for Disease Control and Prevention (CDC)1, angka kejadian osteoartritis pada usia > 25 tahun sebanyak 13,9% dan pada usia > 65 tahun sebanyak 33,6%. Jenis kelamin juga menjadi faktor resiko dimana wanita memiliki resiko yang lebih tinggi dibanding pria.

 

PENYEBAB

Osteoartritis disebabkan beberapa faktor. Selain faktor usia, osteoartritis juga disebabkan karena kondisi lain seperti kegemukan, cedera, abnormalitas pada saat dilahirkan, penyakit diabetes dan gout, serta penyakit hormon lainnya.

GEJALA

Gejala umum osteoartritis adalah nyeri pada sendi yang biasanya disertai pembengkakan. Pada kondisi yang lebih parah, akan menyebabkan nyeri parah pada saat istirahat, kesemutan, kekebasan dan pembesaran keras pada daerah sekitar nyeri.

PATOFISIOLOGI

Osteoartritis dibedakan menjadi 3 yaitu :

1.   Osteoartritis Lutut (degenerasi sendi lutut)

Jenis artritis ini paling banyak dijumpai kejadiannya di Indonesia terutama pada pasien lanjut usia. Pada perjalanannya, nyeri ini seringkali menimbulkan keterbatasan dalam beraktivitas sehari-hari. Komplikasi lain yang terjadi yaitu keterbatasan ruang gerak sendi disertai kekakuan, deformasi lulut menjadi bentuk O (genu varum) atau bentuk x (genu valgus). Komplikasi yang terjadi pada osteoartritis ini berlangsung secara perlahan tapi pasti akibatnya menimbulkan ketidakmampuan berdiri dan berjalan.

Sendi merupakan bagian yang menghubungkan antar tulang sehingga tulang bisa digerakkan. Komponen terpenting pada sendi adalah tulang rawan sendi (articular cartilage) yaitu jaringan tulang rawan yang menutupi kedua ujung tulang dan berfungsi sebagai bantalan. Matriks ekstraselular pada jaringan ini terdiri dari kolagen yang padat dan proteoglikan yang menyebabkan permukaannya menjadi licin dan tahan terhadap gesekan.

Adanya kolagen dan proteoglikan memfasilitasi gerakan dan mencegah pembengkakan pada tulang rawan sendi. Kolagen dan proteoglikan bekerja dengan cara menarik kation menghasilkan tekanan osmolalitas yang tinggi, akibatnya air akan tertarik kedalam tulang rawan sendi. Permukaan menjadi licin sehingga pada saat terjadi pergerakan/biomekanik pada sendi, tidak terjadi gesekan.

Pada kondisi fisiologis, matriks ekstraselular memiliki waktu paro bertahun-tahun sehingga metabolismenya berjalan sangat lambat. Namun dengan adanya peningkatan beban mekanik (peningkatan berat badan), bertambahnya usia dan adanya cedera dapat mempercepat proses metabolismenya. Tulang rawan sendi akan terdegradasi menyebabkan keretakan matriks. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan (inflamasi) yang jika dibiarkan berkepanjangan akan terjadi kerusakan sendi parah sehingga harus di operasi.

2.   Osteoartritis Kaki (Ankle osteoarthritis)

Merupakan artritis yang terjadi pada 60 – 80% pada pasien yang memiliki riwayat cidera pergelangan kaki. Biasa terjadi pada atlet sepakbola atau penari balet. Penyembuhan dilakukan dengan cara istirahat, mengurangi gerak dengan menggunakan sepatu rocker bottom sole atau menggunakan Ankle bandage.

3.  Osteoartritis Tangan

Osteoartritis tangan ditandai dengan terbentuknya pembesaran keras pada sendi jari (Herberden’s node) yang biasanya disebabkan karena abnormalitas saat dilahirkan.

TATALAKSANA TERAPI

Saat ini masih belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkan osteoartritis. Terapi yang saat ini diberikan hanya ditujukan untuk mengurangi nyeri, memperbaiki pergerakan sendi, dan membatasi kerusakan sendi. Terapi yang biasa diberikan yaitu :

  1. Terapi Non Farmakologi

Terapi ini meliputi :

a.  Konseling, Informasi dan Edukasi Pasien

Pemberian informasi dan edukasi pasien diperlukan agar pasien mengerti tentang kondisi penyakit yang dihadapi dan dapat melakukan perubahan gaya hidup kearah yang positif.

b.  Latihan Kekuatan dan Senam Aerobik

Latihan bermanfaat untuk menguatkan otot sekitar sendi yang akhirnya akan membantu pengurangan berat badan. Berenang, jalan kaki, bersepeda stasioner atau latihan beban ringan sangat dianjurkan karena terbukti mampu mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki kekakuan sendi.2

c.  Penurunan Berat Badan

Berkurangnya berat badan mengurangi beban yang disangga oleh sendi sehingga mengurangi nyeri sendi dan memperbaiki fungsi sendi.3

d.  Penggunaan Alat Bantu

Alat bantu seperti sepatu penyerap goncangan, tongkat dll dipertimbangkan sebagai tambahan terapi untuk mengurangi rasa nyeri saat beraktivitas.

  1. Terapi Farmakologi

a.  AINS Topikal

AINS Topikal lebih disarankan dibanding AINS oral. Menurut hasil sebuah meta analisis menunjukkan bahwa AINS Topikal terbukti efektif mengurangi nyeri dan kekakuan sendi.4 Beberapa sediaan AINS Topikal seperti ibuprofen, Na. Diklofenak, salisilamid dalam bentuk salep, krim, atau gel lebih dianjurkan dibanding koyo karena berdasar penelitian yang ada menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada koyo dibandingkan plasebo untuk penyakit osteoartritis.5

b.  Paracetamol

Pedoman terapi menganjurkan penggunaan paracetamol sebagai pilihan utama analgesik untuk pasien osteoartritis dengan pembatasan pemakaian 500 mg untuk satu kali minum dan tidak lebih dari 4 g dalam sehari.6

c.  Kapsaisin

Penggunaan kapsaisin topikal dapat digunakan pada penderita osteoartritis lutut atau tangan. Meskipun seringkali menimbulkan sensasi terbakar dan kemerahan pada area yang dioleskan, namun tidak perlu penghentian terapi.3

d.  AINS Oral

Prinsip penggunaan AINS Oral adalah sebagai berikut :

–          Jika AINS Topikal atau Paracetamol tidak cukup kuat mengatasi nyeri

–          Penggunaan AINS Oral dimulai dari dosis efektif terkecil dan lama pemberian sesingkat mungkin7

e.  Operasi Joint Arthroplasty

Rujukan operasi dibuat sebelum terjadi kerusakan sendi yang parah.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Center for Disease Control and Prevention. Osteoartritis [internet]. 2011 Available at www.cdc.gov/arthritis/basics/osteoarthritis.html
  2. Zhang W, Moskowitz RW, Nuki G, Abramson S, Altman RD, Arden N, et al. OARSI Recommendation For The Management of Hip and Knee Osteoarthritis, Part I : Critical Appraisal of Existing Treatment Guidelines and Systematic Review of Current Research Evidence. Osteoarthr. Cartil. 2007 Sep;15(9): 981 – 1000
  3. Zhang W, Moskowitz RW, Nuki G, Abramson S, Altman RD, Arden N, et al. OARSI Recommendation For The Management of Hip and Knee Osteoarthritis, Part II : OARSI Evidence-based. Expert Concensus Guidelines, Osteoarth. Cartil. 2008 Feb;16(2) : 137 – 62
  4. Lin J, Zhang W, Jones A, Doherty M. Efficacy Of Topical NSAIDs In The Treatment of Osteoartritis : a Meta-analysis of Randomized Controlled Trials. Chin J Evid Based Med 2005; 5(9) : 667 – 74
  5. NICE. CG59 Osteoarthritis : Full Guidence [internet]. NICE 2008 Available at www.nice.org.uk
  6. Recommendation For The Medical Management of Osteoarthritis of The Hip and Knee. American College of Rheumatology Subcommitee on Osteoarthritis Guidelines. Arthritis Rheum. 2000 Sep; 43(9): 1905 – 15
  7. National Collaborating Center for Chronic Conditions. Osteoarthritis. The Care and Management of Osteoarthritis in Adults. NICE. London. 2008

Input Nilai

Hari ini ternyata batas waktu buat input nilai untuk kuliah-kuliah di semester ini ke bagian akademik. Terpaksa sebagian nilai masih incomplete. Alasannya karena beberapa waktu kemaren sibuk mempersiapkan ‘The Big Days’ (jadinya ga masuk kerja). Sekarang saya juga harus mereview naskah skripsi mahasiswa (sudah masuk musim sidang mahasiswa) padahal sedang terserang batuk pilek. Akibatnya proses penilaian kuliah menjadi terlambat. Mohon maaf atas keterlambatan nilai dari saya.

Hari ini harus ngebut buat membereskan proses penilaian biar nilai cepat keluar. Bagi mahasiswa yang membutuhkan nilai segera, karena terkait dengan persyaratan sidang skripsi, mohon menghubungi saya ya biar nilai Anda akan saya prioritaskan lebih dahulu.

Semangat…. (meskipun sebenarnya kondisi tubuh masih ga enak n kepala cenat cenut).

 

Menguji Mahasiswa

Hmm, kayaknya dah masanya Sidang Skripsi niy, artinya saya akan menguji beberapa mahasiswa. Besok ada satu yang akan saya uji.

Bagi saya menguji mahasiswa itu agak berat juga karena pertama saya harus membaca tulisannya (padahal saya sudah terlalu banyak membaca akhir-akhir ini sehingga agak mual he he he) dan yang kedua harus memberikan penilaian. Tidak mudah keduanya, tetapi itu tetap harus saya lakukan. Oh well…

Kadang mahasiswa mengira bahwa dosen yang menguji hanya santai saja menguji. Padahal, si dosen juga harus kerja keras. Eh, tapi jangan-jangan dosen lain gak gitu ya? Datang, duduk, tanya (atau ngomel), kasih nilai, terus pulang.  Hmm… kayaknya boleh dicoba? he he he.

 

UN dijadikan Seleksi Masuk Universitas?

Kemaren tiba-tiba mendapatkan kunjungan dari Dinas Pendidikan, menanyakan pendapat pihak Universitas mengenai adanya wacana untuk menjadikan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai seleksi masuk perguruan tinggi. Wew, kalau ini terjadi menurut saya dikhawatirkan akan memperburuk kualitas pendidikan di Indonesia.

Mari kita lihat fungsi sejati dari masing-masing ujian ini.Ujian Nasional (UN) sejatinya digunakan sebagai sarana evaluasi pendidikan yang sifatnya diagnostik. Hasil yang diperoleh dijadikan alat untuk melakukan evaluasi, jika nilai yang diperoleh masih kurang memuaskan maka hasil ini dijadikan tolak ukur perbaikan.

Ujian masuk Universitas sejatinya digunakan untuk menyaring (filter) mahasiswa yang sesuai dengan visi dan misi jurusan, departemen, atau program studi yang ada di masing-masing Universitas. Visi dan misi ini tentunya berbeda-beda tergantung permasalahan lokal yang terjadi di masing-masing daerah. Tentunya hal ini tidak bisa di generalisasi dan mengapa harus disamakan?

Terlepas dari wacana diatas, sebenarnya menurut saya pribadi agak kurang pas jika hanya nilai UN yang dijadikan dasar untuk menentukan lulus/tidaknya siswa. Seharusnya kelulusan siswa menjadi otonomi dari masing-masing sekolah.  Kenapa demikian, karena saya melihat adanya pengaruh buruk dari sistem ini. Sekolah menjadi terfokus untuk menjadikan para siswanya untuk lulus UN daripada mengajarkan para siswa untuk memahami esensial dari materi ilmu itu sendiri. Banyak sekolah berlomba-lomba mengkatrol nilai para siswanya sejak semester 1 (nilai harus diatas 7,5) agar sekolah mereka tidak di cap buruk karena ada siswa yang tidak lulus. Ini yang memperburuk kualitas pendidikan karena nilai yang siswa peroleh tidak menggambarkan kemampuan siswa itu seutuhnya.

Untuk itu mari kita bersama-sama memikirkan bagaimana memperbaiki sistem pendidikan dan metode pengajaran yang ada di Indonesia. Tidak perlu takut untuk menegakkan kejujuran. Tidak perlu melakukan pengkatrolan nilai kepada para siswa hanya karena kita takut dicap buruk karena itu bukan pembelajaran yang baik.

Spending Time..

Saya sedang ingin banyak membaca. Ada banyak bahan bacaan yang harus dan ingin dibaca, tetapi waktunya tidak cukup. Kadang saya merasa bersalah juga kalau membaca sesuatu yang tidak bisa dirasakan manfaatnya sekarang juga. Misalnya, ada beberapa buku farmasi, buku tentang globalisasi, buku novel, dan sejenisnya yang ingin saya baca tetapi pelajaran dari buku-buku tersebut tidak dengan segara bisa saya manfaatkan. Kalau sudah gini, kesel deh. Bagi Anda yang rajin membaca, Apakah Anda membenarkan (justify) ini?

Lebih kesal lagi melihat anak-anak SMP/SMA yang luntang lantung seperti tidak ada pekerjaan. Harusnya mereka bisa baca buku. Mereka membuang waktu dengan percuma karena tidak tahu mau apa, sementara saya merasa kehabisan waktu. Duh.

Makanan Berserat itu, Penting Banget..!!!

images 41

Makanan tinggi serat itu tidak hanya diperlukan untuk mereka yang sedang menjalankan program Diet. Serat merupakan nutrisi penting yang diperlukan tubuh untuk mencapai kesehatan optimal. Menurut the American Association of Cereal Chemist (AACC, 2001), serat merupakan bagian tanaman yang dapat … Baca lebih lanjut

Obat Generik Semakin Ditinggalkan

Fenomena ini menunjukkan bahwa peresepan obat generik di Rumah Sakit semakin menurun. Padahal pmerintah sudah jelas dan tegas mengatur tentang penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010. Keengganan para dokter untuk meresepkan obat generik menyebabkan penurunan penggunaan obat generik. Hal ini terlihat pada data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, periode tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan pasar obat nasional (dari Rp 23,5 triliun menjadi Rp 32,9 triliun) tetapi hanya 10% yang dihasilkan dari penggunaan obat generik.

Adanya banyak faktor penyebab obat generik ditinggalkan. Kurangnya promosi obat generik kepada Dokter menyebabkan banyak dokter yang tidak mengenal beberapa obat generik. Selain itu gencarnya promosi tentang obat bermerek yang diberikan petugas penjual obat menyebabkan Dokter enggan meresepkan obat generik. Selain itu, sugesti tentang obat generik yang berkembang di masyarakat pun juga menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya penggunaan obat generik. Adanya anggapan bahwa obat generik itu hanya untuk masyarakat miskin atau obat murah dikira tidak ampuh menyebabkan masyarakat enggan mengkonsumsi obat generik.

Untuk itu sebaiknya Pemerintah perlu membuat suatu sistem yang semakin memperketat pengawasan peresepan dan meningkatkan promosi yang semakin gencar mengenai obat generik. Diperlukan kerjasama semua pihak baik industri farmasi, dokter, pemerintah dan apoteker untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran tentang penggunaan obat generik sehingga masyarakat tidak semakin dirugikan dengan mahalnya harga obat yang harus dibayarkan demi sebuah kesembuhan.

Gel

       Gel merupakan sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya  dan mengandung zat aktif, merupakan dispersi  koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang saling  berikatan pada fase terdispersi. Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak digunakan pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan. Polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintetis dan semisintetis seperti metil selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa, dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi.

               Gel terbagi menjadi dua yaitu :

1. Dasar gel hidrofobik

Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel anorganik, bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase.

2. Dasar gel hidrofilik

Dasar gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Gel hidrofilik umumnya mengandung komponen bahan pengembang, air, humektan dan bahan pengawet.

 

Keuntungan sediaan gel :

– kemampuan penyebarannya baik pada kulit

– efek dingin, yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit

– tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis

– kemudahan pencuciannya dengan air yang baik

– pelepasan obatnya baik

 

Penggolongan sediaan gel :

1.    Berdasarkan sifat fasa koloid :Gel Organik (pembentuk gel berupa polimer) dan Gel Anorganik

2.    Berdasarkan sifat pelarut :

  • Hidrogel (pelarut air)

Hidrogel terbentuk dari molekul polimer hidrofilik yang berikatan melalui ikatan kimia. Hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dibanding cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel.

Hidrogel bersifat lembut/lunak dan elastis sehingga meminimalkan iritasi.

  • Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik). Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara  shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.
  • Xerogel.

Xerogel dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga yang tersisa hanya kerangka gel. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.

3.    Berdasarkan bentuk struktur gel:  Kumparan acak, Heliks, Batang

4.    Berdasarkan jenis fase terdispersi:

  • Gel fase tunggal

Terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu.

  • Gel sistem dua fasa

Terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu.

Eksipien sediaan gel:

1.    Gelling Agent

Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur yaitu gum arab, turunan selulosa, dan karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral.

2.    Polietilen (gelling oil)

Digunakan dalam gel hidrofobik menghasilkan gel yang lembut, mudah tersebar, dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel, polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks.

3.    Koloid padat terdispersi

Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik  antar partikel seperti ikatan hidrogen.

4.    Surfaktan

Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral, air, dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut.

5.     Wax

Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax, carnauba wax, setil ester wax.

6.    Polivinil alkohol

Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan.

7.    Pengawet

Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba, tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :

  • Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,05 % w/v
  • Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau klorokresol  0,1 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v
  • Pektin  : asam benzoat 0,2 % w/v  atau metil hidroksi benzoat 0,12 % w/v  atau klorokresol 0,1-0,2 % w/v
  • Starch glyserin          : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v  atau asam benzoat 0,2 % w/v
  • MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau benzalkonium klorida 0,02% w/v
  • Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v
  • Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 %  w/v

8.    Chelating agent

Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive  terhadap logam berat. Contohnya EDTA

Hal yang harus diperhatikan:

  1. Penampilan gel : transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur  tiga dimensi.
  2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut).
  3. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam formulasi.
  4. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.
  5. Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat penggunaan topikal.
  6. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol.
  7. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel)
  8. Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila  daya adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel akan rusak.